Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pendidikan menghadirkan dua skema pendidikan yang lebih fleksibel bagi anak-anak putus sekolah, yakni Program SMA Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dan SMA Terbuka.
Kedua program tersebut disiapkan untuk memperluas akses pendidikan sekaligus menekan angka putus sekolah di Provinsi Lampung.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Thomas Amirico mengatakan, Program SMA PJJ diselenggarakan melalui SMA Negeri 2 Bandar Lampung sebagai sekolah induk. Program ini diperuntukkan bagi anak putus sekolah berusia 16–18 tahun yang telah berhenti sekolah minimal satu tahun setelah menyelesaikan jenjang pendidikan sebelumnya.
Menurut Thomas, sistem pembelajaran dirancang lebih fleksibel dengan komposisi 70 persen daring dan 30 persen tatap muka. Lulusan program tersebut akan memperoleh ijazah resmi dari SMA Negeri 2 Bandar Lampung.
Selain SMA PJJ, Pemprov Lampung juga membuka Program SMA Terbuka bagi anak putus sekolah berusia 15–21 tahun. Program ini menggunakan sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, dengan kegiatan tatap muka dua kali dalam sepekan sehingga memungkinkan siswa tetap melanjutkan pendidikan tanpa mengganggu aktivitas lainnya.
Thomas menegaskan, kedua program tersebut menjadi solusi untuk memperluas akses pendidikan menengah sekaligus menekan angka putus sekolah di Lampung.
“Pemerintah Provinsi Lampung juga akan melaksanakan program Satu Desa Satu Sarjana mulai tahun depan. Tujuannya untuk mencetak sarjana di setiap desa yang diharapkan dapat kembali membangun daerah asalnya sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Provinsi Lampung,” kata Thomas.
Di sisi lain, Pemprov Lampung juga terus mendorong pembangunan ruang kelas baru sebagai upaya meningkatkan kapasitas layanan pendidikan di berbagai daerah.
Thomas menjelaskan, SMA Negeri 2 Bandar Lampung dipilih sebagai sekolah induk Program SMA PJJ agar kualitas layanan pendidikan tetap terjaga.
Pendaftaran Program SMA PJJ telah dibuka dan berlangsung hingga 31 Juli 2026. Selain SMA Negeri 2 Bandar Lampung sebagai sekolah induk, program ini didukung tiga sekolah mitra, yakni SMAN 1 Pagar Dewa, Kabupaten Lampung Barat, SMAN 1 Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, dan SMAN 1 Rawa Jitu Selatan, Kabupaten Tulang Bawang.
Peserta Program SMA PJJ, lanjut Thomas, harus merupakan anak yang telah putus sekolah minimal satu tahun. Pola pembelajaran dibuat adaptif dengan komposisi 70 persen daring dan 30 persen tatap muka.
Menurutnya, kegiatan tatap muka tidak harus dilaksanakan di sekolah induk. Guru dapat mendatangi lokasi siswa apabila jarak tempat tinggal terlalu jauh sehingga peserta didik tetap dapat mengikuti pembelajaran secara optimal.
“Harapan kita program ini dapat menurunkan angka putus sekolah di Provinsi Lampung,” ujarnya.
Sementara itu, pendaftaran Program SMA Terbuka dijadwalkan berlangsung mulai 20 Juli hingga Agustus 2026. Program ini diperuntukkan bagi masyarakat berusia 15–21 tahun, baik yang telah lulus SMP namun belum melanjutkan pendidikan maupun yang putus sekolah di jenjang SMA.
Program SMA Terbuka akan dilaksanakan di 15 SMA negeri yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Masa pendidikan tetap berlangsung selama tiga tahun dan seluruh lulusannya akan memperoleh ijazah yang sah.
Thomas mengajak pemerintah desa dan para camat turut menyosialisasikan kedua program tersebut agar masyarakat yang putus sekolah kembali mendapatkan kesempatan menyelesaikan pendidikan menengah.
“Silakan para kepala desa dan camat menyosialisasikan program ini kepada masyarakat. Yang terpenting, seluruh layanan pendidikan ini gratis dan kuota peserta tidak dibatasi,” tegasnya.
