Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di sejumlah daerah di Lampung menuai sorotan. Sejumlah keluhan masyarakat terkait kualitas menu makanan menjadi perhatian serius legislatif.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas, mengaku menerima berbagai laporan mengenai menu MBG yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar gizi yang ditetapkan.
Menurutnya, masukan dari masyarakat harus dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan program yang menyasar anak-anak tersebut.
“Kita berterima kasih kepada masyarakat yang telah menyampaikan keluhan. Ini menjadi bahan evaluasi agar program benar-benar berjalan sesuai tujuan,” ujar Mikdar, Rabu (25/2/2026).
Ia menegaskan, setiap dapur penyelenggara MBG seharusnya memiliki sistem pengawasan internal yang ketat, mulai dari tenaga gizi, kepala dapur, hingga penanggung jawab Satuan Pelayanan Gizi. Seluruh unsur tersebut bertanggung jawab memastikan makanan yang disajikan telah memenuhi standar sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.
“Setiap menu ada ketentuannya. Kalau sudah sesuai standar yang ditetapkan, baru bisa disalurkan. Jangan sampai kualitasnya di bawah standar,” tegasnya.
Mikdar mengakui, persoalan ini tidak terjadi secara menyeluruh. Masih banyak dapur yang telah menjalankan program dengan baik. Namun, temuan yang beredar tetap harus menjadi perhatian serius.
Karena itu, DPRD Lampung mendorong tim pengawas atau Satgas yang telah dibentuk pemerintah untuk rutin melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur-dapur MBG, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
“Sidak itu penting untuk memastikan kualitas tetap terjaga. Jangan sampai ada kelalaian, apalagi unsur kesengajaan yang merugikan anak-anak sebagai penerima manfaat,” ujarnya.
Selain persoalan kualitas, Mikdar juga menyoroti tantangan di lapangan terkait kenaikan harga sejumlah bahan pangan. Ia menjelaskan, anggaran per porsi MBG sebesar Rp8.000 untuk balita hingga siswa kelas 1–3 SD, serta Rp10.000 untuk siswa kelas 4 SD hingga SMA, harus mencakup menu lengkap seperti susu, telur, roti, buah, dan lauk lainnya.
Namun, kenaikan harga daging ayam dan susu UHT menjadi kendala tersendiri bagi dapur penyedia.
“Kondisi harga bahan pokok memang naik. Tapi itu tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan mutu makanan,” katanya.
Ia menegaskan, tujuan utama program MBG adalah meningkatkan gizi anak, mencegah stunting, serta menciptakan generasi yang sehat dan cerdas. Jika kualitas gizi tidak terpenuhi, maka program tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan.
“Kalau kualitasnya tidak sesuai standar, tentu program ini tidak akan efektif. Maka pengawasan harus benar-benar diperkuat,” pungkas
