Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung perkembangan pembangunan fasilitas tanggul untuk mitigasi interaksi negatif manusia dan Gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Minggu, 20 September 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Raja Juli didampingi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal serta Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Kaja Glomm. Rombongan melihat sejumlah fasilitas yang disiapkan untuk mendukung konservasi sekaligus mengurangi interaksi negatif antara gajah liar dan masyarakat di sekitar kawasan.
Kunjungan Raja Juli ke Way Kambas juga mencakup pemantauan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mitigasi interaksi manusia dengan Gajah Sumatera hingga konservasi Badak Sumatera. Menhut menekankan perlindungan Way Kambas perlu dilakukan sebagai satu kesatuan bentang alam, termasuk menjaga habitat satwa dan memberikan rasa aman bagi masyarakat sekitar.
Dalam peninjauan fasilitas mitigasi gajah, Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera di TNWK Brigjen TNI Sriyanto memaparkan perkembangan pembangunan yang saat ini telah mencapai lebih dari 80 persen.
Pengerjaan ditargetkan rampung pada Oktober 2026.
Di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG), pembangunan mencakup 43 lingkup pekerjaan berupa infrastruktur dan fasilitas pendukung konservasi.
Salah satu infrastruktur yang menjadi prioritas adalah pagar pembatas. Konstruksi tersebut dirancang dengan mempertimbangkan kondisi kawasan, termasuk potensi banjir serta kekuatan struktur untuk menghadapi aktivitas gajah.
Selain fasilitas mitigasi, pembangunan juga meliputi jembatan di sejumlah desa sekitar kawasan, kandang gajah jantan, dapur gajah, pusat komando penanganan konflik gajah hingga fasilitas kesehatan satwa.
Pembangunan tersebut diarahkan untuk menekan interaksi negatif antara manusia dan gajah tanpa mengabaikan aktivitas masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TNWK.
Dalam kunjungannya, Raja Juli juga menekankan pentingnya perlindungan satwa liar di tengah ancaman karhutla. Menurutnya, penanganan kebakaran di kawasan konservasi tidak hanya menyangkut pemadaman, tetapi juga perlindungan terhadap satwa dan habitatnya.
Pengelolaan TNWK selanjutnya diarahkan untuk memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat konservasi, sekaligus mendukung pengembangan wisata berbasis konservasi.
Pemerintah bersama pengelola TNWK dan unsur terkait juga terus memperkuat pengawasan kawasan. Masyarakat sekitar turut didorong terlibat dalam menjaga kelestarian Way Kambas dari perburuan liar, penambangan ilegal maupun pembakaran lahan.
