Gubernur Lampung Optimistis Kontribusi Swasembada Pangan Nasional

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal optimistis Provinsi Lampung mampu memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung program Presiden RI Prabowo Subianto terkait swasembada pangan nasional.

Optimisme itu disampaikan Gubernur Mirza usai mengikuti Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan Nasional secara virtual dari Kantor PDAM Pesawaran, Desa Kutoarjo, Kecamatan Gedong Tataan, Rabu (7/1/2026).

Gubernur Mirza mengungkapkan, produksi padi Lampung pada tahun ini mengalami peningkatan hampir 15 persen.

“Alhamdulillah, produksi padi Lampung meningkat hampir 15 persen, dari sebelumnya 2,7 juta ton menjadi sekitar 3 juta ton. Kami optimistis pada 2026 produksi bisa kembali naik sekitar 15 hingga 20 persen,” ujar Mirza.

Menurutnya, peningkatan tersebut akan semakin diperkuat dengan penerapan pupuk organik cair yang ditargetkan merata pada 2026.

Program ini diperkirakan mampu menambah produktivitas pertanian hingga 10 persen.

Selain padi, Pemerintah Provinsi Lampung juga terus mendorong peningkatan produksi jagung serta memperkuat kerja sama antardaerah.

Salah satunya melalui perjanjian kerja sama pertanian antara Provinsi Lampung dan Jawa Tengah.

“Kita saling membutuhkan. Lampung memasok gula, sementara Jawa Tengah memasok cabai dan bawang. Ini bentuk sinergi untuk menjaga stabilitas pangan nasional,” jelasnya.

Gubernur Mirza juga menegaskan komitmen Pemprov Lampung dalam menjaga keberlanjutan lahan pertanian. Seluruh bupati di Lampung telah diinstruksikan untuk menginventarisasi serta mendaftarkan lahan sawah berkelanjutan agar tidak beralih fungsi.

Sementara itu, Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan capaian swasembada pangan nasional dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan yang dipusatkan di Karawang, Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan tonggak strategis dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

“Tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka jika kebutuhan pangannya masih bergantung pada negara lain,” tegas Presiden.

Ia menilai pandemi Covid-19 menjadi peringatan keras bagi Indonesia agar tidak bergantung pada pasokan pangan dari luar negeri.

“Covid adalah lampu kuning bagi bangsa Indonesia. Jangan lengah dan jangan tergantung pada bangsa lain,” ujarnya.

Presiden Prabowo juga menekankan peran strategis petani sebagai fondasi utama perjuangan bangsa sejak awal kemerdekaan.

“Kita tidak akan merdeka tanpa jasa para petani. Mereka yang paling setia dan paling merah putih di Republik ini,” katanya.

Menurut Presiden, swasembada pangan merupakan awal dari kemandirian nasional yang lebih luas, termasuk kemandirian energi dan ekonomi.

“Dari pertanian, kita bisa mandiri bukan hanya soal pangan, tapi juga energi,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman menyampaikan bahwa capaian swasembada pangan nasional ditopang oleh stok dan kinerja sektor pertanian yang berada pada level tertinggi sepanjang sejarah.

“Stok pangan kita saat ini 3,2 juta ton. Indonesia pernah mendapat penghargaan FAO tahun 1984 dengan stok 2 juta ton. Kini kita bahkan pernah mencapai 4 juta ton,” ungkap Amran.

Ia juga menyebut konsumsi sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) mencapai rekor tertinggi, yakni 12 juta ton atau meningkat 49 persen.

Selain itu, kesejahteraan petani dan kinerja ekspor turut menunjukkan tren positif.
“Nilai Tukar Petani berada di angka 125, tertinggi sepanjang sejarah. Ekspor pertanian naik 33 persen dengan nilai mencapai Rp158 triliun,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Menteri Amran menegaskan tidak ada alasan bagi pelaku usaha menaikkan harga pangan, termasuk minyak goreng.

“Indonesia produsen terbesar dunia. Tidak ada alasan harga naik. Jika ada yang melanggar, akan kami tindak tegas,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *