Anggota DPRD Provinsi Lampung Andika Wibawa menilai rumah tangga kini menjadi garis depan dalam menjaga ideologi Pancasila di tengah derasnya arus digital dan banjir informasi. Hal itu ia sampaikan saat Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kelurahan Garuntang, Kota Bandar Lampung, Sabtu, 17 Januari 2026.
Menurut Andika, ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila saat ini tidak lagi hadir dalam bentuk fisik atau ideologi yang terbuka. Ancaman tersebut justru masuk melalui pola hidup digital yang perlahan menggerus karakter, terutama di lingkungan keluarga.
“Kerusakan karakter sekarang dimulai dari rumah. Anak sibuk menonton, orang tua juga sibuk dengan hiburan masing-masing. Dialog hilang, pendidikan karakter pun terabaikan,” kata Andika di hadapan peserta sosialisasi.
Ia mengatakan, keluarga seharusnya menjadi benteng pertama dalam penanaman nilai Pancasila. Namun, perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan kesadaran pendidikan karakter justru menjauhkan anggota keluarga dari proses pembentukan empati dan kebangsaan.
Andika menegaskan, sosialisasi Pancasila tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial atau rutinitas politik semata. Menurut dia, forum semacam ini penting untuk terus menghidupkan Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Bukan karena kita tidak tahu Pancasila, tetapi karena nilai-nilainya harus terus dibicarakan dan dipraktikkan. Tanpa Pancasila, kita sulit saling mengenal dan menghormati,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi masyarakat di era media sosial yang mudah terprovokasi dan terpolarisasi akibat perbedaan pandangan. Tanpa fondasi ideologi yang kuat, keberagaman justru berpotensi menjadi sumber konflik.
Dalam kesempatan yang sama, narasumber Agustiono menyatakan Pancasila bukan konsep abstrak, melainkan lahir dari keberagaman dan nilai keagamaan yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Ia menilai kekuatan bangsa terletak pada persatuan rakyat.
“Benteng kita bukan senjata, tetapi persatuan. Selama rakyat bersatu, ideologi yang bertentangan dengan nilai bangsa tidak akan berkembang,” kata Agustiono.
Namun, ia mengingatkan bahwa persatuan harus dibangun sejak dari rumah. Menurut dia, peran keluarga, terutama ibu, sangat menentukan dalam pembentukan adab dan karakter anak.
Narasumber lainnya, M. Andi Fachri, menyebut Lampung sebagai miniatur Indonesia yang relatif berhasil menjaga toleransi di tengah keberagaman. Ia menilai sikap terbuka masyarakat Lampung menjadi modal penting dalam menjaga persatuan.
“Kondisi ini harus terus dirawat, terutama di tengah maraknya narasi adu domba di ruang digital,” kata Andi.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa penguatan nilai Pancasila di dalam keluarga akan berdampak langsung pada ketahanan sosial dan kebangsaan. “Kalau rumah kuat, bangsa ini tidak mudah goyah,” ujarnya.












