Lonjakan nilai ekspor Provinsi Lampung yang mencapai Rp 111 triliun pada 2025 dinilai menjadi momentum penting untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis hilirisasi.
Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Basuki, menilai capaian ekspor tersebut harus dibaca sebagai peluang untuk memperkuat industri pengolahan di daerah, bukan sekadar peningkatan angka perdagangan luar negeri.
Menurutnya, struktur ekonomi Lampung perlu didorong agar tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Pengembangan produk turunan kelapa sawit dan kopi disebut sebagai strategi konkret untuk meningkatkan nilai tambah di dalam daerah.
“Kita menyambut baik capaian ekspor Lampung. Namun yang lebih penting adalah bagaimana komoditas unggulan seperti sawit dan kopi dapat diolah di daerah sehingga memberikan nilai tambah maksimal bagi masyarakat,” ujar Ahmad Basuki, Selasa (3/2/2026).
Ia menegaskan, hilirisasi akan memperkuat rantai industri, mulai dari sektor produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran. Dengan begitu, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar, tetapi juga petani dan pelaku UMKM.
Selain itu, penguatan industri pengolahan diyakini dapat menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan daya saing produk Lampung di pasar nasional maupun internasional.
Basuki juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur dan kepastian kebijakan untuk menarik investasi di sektor pengolahan. Menurutnya, kemudahan akses logistik, ketersediaan energi, serta konektivitas antardaerah menjadi faktor penentu keberhasilan hilirisasi.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan petani harus diperkuat agar pengembangan industri berjalan berkelanjutan.
“Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat, khususnya petani sebagai tulang punggung ekonomi Lampung. Jika industri hilir tumbuh, maka efeknya akan langsung dirasakan di tingkat akar rumput,” tegasnya.
Dengan dorongan hilirisasi yang konsisten, Lampung diharapkan tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil komoditas, tetapi juga sebagai pusat industri pengolahan yang mampu meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (*)












